KEKUATAN DARI PENDERITAAN

Posted in Motivasi with tags , on November 7, 2008 by Arasy

“Penderitaan telah membantu kita untuk mencapai suatu batas yang tidak pernah terbayangkan. Andai kata Dostoyevsky dan Leo Tolstoy tidak mengalami kehidupan yang pahit, keduanya tak akan sukses menulis memoar dan novel-novel yang mengagumkan dan abadi hingga saat ini.”
~William James

Sebenarnya judul artikel ini “Jangan Tunggu Sampai Menderita Dulu”.Penderitaan memang menginspirasi semangat kita untuk bangkit. Namun bukan berarti jika kita berkelimpahan dan sejahtera tidak bisa meraih sesuatu ang mengagumkan. Justru yang berkelimpahan memiliki peluang yang lebih besar kerena minimalnya hambatan yang ada. Serta tersedianya berbagai fasilitas yang mendukung.

Mengapa kesuksesan yang dilatarbelakangi oleh penderitaan menjadi semacam hal yang luar biasa? Menurut saya hal ini karena untuk mencapai sukses tersebut ia harus meng hadapi berbagai macam hambatan ,rintangan dan segala keterbatasan. Hal inilah yang menjadikannya sesuatu yang luar biasa.

Dan benarkah keyatiman, kebutaan, pengasingan dan kemiskinan salah satu sebab tumbuhnya kreativitas, produktvitas, kemajuan dan konstribusi?

Saya rasa benar. Namun yang bangkit untuk sukses hanya sebagian kecil saja dan sisanya tetap miskin dan bertambah miskin. Belum lagi mereka yang menjadikan kekreatifan dan produktivitasnya mengarah ke hal-hal yang negatif seperti merugikan dan membahayakan bagi orang lain dan lingkungan.

Dengan demikian hanya orang-orang yang memang memiliki semangat juang untuk mencari kebaikan, memberi manfaat bagi diri sendiri, orang lain dan lingkunganlah yang kreativitas dan produktivitasnya memberi kemajuan dan konstribusi. Bahkan dalam keadaan apapun juga baik dalam keadaan tertekan, terasing, teraniaya maupun dalam keadaan berkelimpahan dan sejahtera.

Saya pikir, tidak ada alasan atau penghambat bagi kita semua untuk maju dan meraih apa yang kita inginkan. Tidak ada alasan untuk tidak percaya diri, minder, takut gagal dan lain-lain. Kisah-kisah orang-orang sukses yang dilatarbelakangi oleh penderitaan adalah contoh-contoh yang sangat menginspirasi kita. Kita bisa memetik pelajaran berharga dan mencontoh semangatnya yang luar biasa yang tidak kenal menyerah.

Saya suka membaca kisah-kisah orang-orang sukses tersebut. Saya bisa mengamati, meniru dan memodifikasinya berdasarkan pengalaman dan kemampuan saya. Jika saya ingin menjadi seorang penulis, saya mengamati tulisan-tulisan para penulis ternama untuk kemudian meniru mereka dengan memodifikasi dengan pengalaman saya yang merupakan nilai tambah tersendiri bagi saya. Jika kita ingin menjadi seorang manager sukses pastilah kita juga akan mengamati dan meniru seseorang yang telah menjadi manager sukses tersebut. Bahkan kita akan memberi nilai tambah untuk pekerjaan kita tersebut. Demikian juga jika kita ingin menjadi seorang pengusaha sukses, menjadi seorang mahasiswa yang lulus dengan nilai cumlaude dan lain-lain.

KEKUATAN DARI PENDERITAAN

Posted in Motivasi with tags , on November 7, 2008 by Arasy

“Penderitaan telah membantu kita untuk mencapai suatu batas yang tidak pernah terbayangkan. Andai kata Dostoyevsky dan Leo Tolstoy tidak mengalami kehidupan yang pahit, keduanya tak akan sukses menulis memoar dan novel-novel yang mengagumkan dan abadi hingga saat ini.”
~William James

Sebenarnya judul artikel ini “Jangan Tunggu Sampai Menderita Dulu”.Penderitaan memang menginspirasi semangat kita untuk bangkit. Namun bukan berarti jika kita berkelimpahan dan sejahtera tidak bisa meraih sesuatu ang mengagumkan. Justru yang berkelimpahan memiliki peluang yang lebih besar kerena minimalnya hambatan yang ada. Serta tersedianya berbagai fasilitas yang mendukung.

Mengapa kesuksesan yang dilatarbelakangi oleh penderitaan menjadi semacam hal yang luar biasa? Menurut saya hal ini karena untuk mencapai sukses tersebut ia harus meng hadapi berbagai macam hambatan ,rintangan dan segala keterbatasan. Hal inilah yang menjadikannya sesuatu yang luar biasa.

Dan benarkah keyatiman, kebutaan, pengasingan dan kemiskinan salah satu sebab tumbuhnya kreativitas, produktvitas, kemajuan dan konstribusi?

Saya rasa benar. Namun yang bangkit untuk sukses hanya sebagian kecil saja dan sisanya tetap miskin dan bertambah miskin. Belum lagi mereka yang menjadikan kekreatifan dan produktivitasnya mengarah ke hal-hal yang negatif seperti merugikan dan membahayakan bagi orang lain dan lingkungan.

Dengan demikian hanya orang-orang yang memang memiliki semangat juang untuk mencari kebaikan, memberi manfaat bagi diri sendiri, orang lain dan lingkunganlah yang kreativitas dan produktivitasnya memberi kemajuan dan konstribusi. Bahkan dalam keadaan apapun juga baik dalam keadaan tertekan, terasing, teraniaya maupun dalam keadaan berkelimpahan dan sejahtera.

Saya pikir, tidak ada alasan atau penghambat bagi kita semua untuk maju dan meraih apa yang kita inginkan. Tidak ada alasan untuk tidak percaya diri, minder, takut gagal dan lain-lain. Kisah-kisah orang-orang sukses yang dilatarbelakangi oleh penderitaan adalah contoh-contoh yang sangat menginspirasi kita. Kita bisa memetik pelajaran berharga dan mencontoh semangatnya yang luar biasa yang tidak kenal menyerah.

Saya suka membaca kisah-kisah orang-orang sukses tersebut. Saya bisa mengamati, meniru dan memodifikasinya berdasarkan pengalaman dan kemampuan saya. Jika saya ingin menjadi seorang penulis, saya mengamati tulisan-tulisan para penulis ternama untuk kemudian meniru mereka dengan memodifikasi dengan pengalaman saya yang merupakan nilai tambah tersendiri bagi saya. Jika kita ingin menjadi seorang manager sukses pastilah kita juga akan mengamati dan meniru seseorang yang telah menjadi manager sukses tersebut. Bahkan kita akan memberi nilai tambah untuk pekerjaan kita tersebut. Demikian juga jika kita ingin menjadi seorang pengusaha sukses, menjadi seorang mahasiswa yang lulus dengan nilai cumlaude dan lain-lain.

JANGAN-JANGAN POSITIVE THINKING-LAH SUMBER MASALAHNYA

Posted in Motivasi with tags , on November 7, 2008 by Arasy

Anda mungkin tak asing dengan Pygmalion. Dia adalah nama tokoh legenda Yunani yang katanya dikenang hingga kini untuk mengambarkan dampak ampuh pola berpikir positif. Dalam kisahnya Pygmalion–yang selalu berpikir positif itu–konon diberkahi para dewa yang salut: patung perempuan rupawan karyanya diberi nyawa dan lalu jadi istrinya.

Pola pikir Pygmalion adalah berpikir, menduga, dan berharap hanya yang baik tentang suatu keadaan atau seseorang. Warna hidup tergantung dari warna kacamata yang kita pakai. Kalau kita berpikir positif tentang suatu keadaan atau seseorang, seringkali hasilnya betul-betul menjadi positif. Pokoknya berpikirlah positif agar segala keinginan bisa sering terwujud.

Namun sebagian orang mengatakan: ”Hare gene terus berpikir positif. Gimana bisa?! Nggak ngeliat berita di koran dan TV apa? Gimana para anggota DPR satu per satu masuk bui. Bagaimana satu pengusaha diciduk aparat untuk mengimbangi penangkapan jaksa yang sebelumnya tertangkap tangan menerima duit suap. Juga bagaimana seorang pemeriksa pajak punya rekening berisi duit lima miliar rupiah.”

Sebagai penyemangat, secara individual bersikap positif sah-sah saja. Terserah masing-masing karena itu pilihan pribadi. Tapi secara pribadi pikiran sering terusik: sudah benarkah kita berpikir polisi yang minta disuap karena anaknya lagi sakit dan bukan menjebak dengan sengaja? Benarkah kita menganggap anggota DPR yang mengendap-endap mengambil koper uang fee di pintu Plaza Senayan itu perlu duit agar bisa lebih banyak beramal.

Benarkah ini… Benarkah itu… meskipun jelas yang dilakukan sudah melanggar pagar kepatutan. Bahkan, pelanggaran pidana yang telah menyeabkan jutaan anak terpaksa sekolah dengan fasilitas seadanya. Mungkin lebih dari itu tindak korupnya sudah menyebabkan banyak orang tewas karena dampak ikutannya. Entah karena gedung yang dibangun runtuh atau jembatan yang dibangun ambrol.

Tak tertarikah kita untuk menengok bahwa semua bencana sebenarnya disebabkan ulah manusia sendiri. Tepatnya ulah segelintir manusia yang mengutamakan keserakahannya untuk memenuhi keinginan kemaruknya akan uang dan kekuasaan. Ulah yang bukan didorong kebutuhan wajar manusiawi untuk hidup layak dan beradab. Hidup yang semestinya juga memberikan berkah bagi sesama dan bukan mengundang malapetaka.

Tegasnya sikap positif itulah yang mungkin justru menunjang berbagai tindak korupsi dan kolusi yang hanya menguntungkan segelintir orang. Semuanya atas biaya yang dikeluarkan orang lain, sejak yang hanya dilanggar haknya saat mengantri, hingga mereka yang benar-benar diputus hak hidup bahkan berakibat kematian, yang konyolnya tak jarang terjadi secara tanpa disengaja.

Tampaknya perlulah kita semua merenungkan berkali-kali sudah tepatkah sikap egoistis yang seakan tak hirau dengan kesejahteraan bagi individu yang mestinya bisa dilahirkan dari hidup bersama ini? Tepatkah sikap positif kita sepenuhnya menjadi dalih untuk tak hirau dengan berbagai centang perenang situasi dan kondisi hidup bersama?

Benarkah bahwa asal kita sudah kecipratan tak ada yang perlu dirisaukan. Bahkan bila ada suara sumbang yang mengusik tentang itu bersikap elegan sajalah seperti kata pepatah anjing menggonggong, kafilah berlalu. Bahkan kalau perlu si pengusik itu dibungkam total dan perlakukan seakan dia orang gila yang tak punya hak bersuara bahkan hak hidup.

Sudah tepatkah ”sikap cuek” asal perut–sendiri, keluarga, kelompok–tetap kenyang itu dipertahankan di tengah suasana tak tahu malu para koruptor yang tak jera-jeranya berlaku serong meski terancam disadap dan ditangkap basah. Cukup beradabkah kita bila malah menyalahkan para korban yang kita anggap terlalu lugu dan berseberangan dengan aspirasi pribadi kita yang mengagungkan sikap positif.

Memang bisa jadi itu hanya masalah mind game untuk menjalankan pilihan yang satu dan meninggalkan yang lain. Tapi jelas selalu berperilaku positif sebagaimana tuntutan untuk memenuhi kredo selalu bersikap positif dan berprasangka baik, dari sisi yang lain terlihat semakin tidak realistis. Bahkan menjurus pada penyangkalan tentang kebenaran dan bisa jadi malah dianggap sebagai realitas yang bisa memberi kebaikan.

Jadi betapa sudah terbalik-baliknya dunia. Yang benar disalahkan, dan yang salah dibenarkan. Semua dengan dalih yang sering dikemukakan betapa orang sebaiknya bisa terus bersikap positif dalam kondisi apa pun. Padahal dalih itu rawan dipelesetkan untuk sekalian memaksakan realitas internal tentang kondisi yang dihadapi sebagai hal yang benar secara absolut tanpa peduli kondisi objektifnya.

Simak dari sangkalan atas pembicaraan antar tersangka yang jaksa dan pengusaha dalam kasus penyuapan terkait penyidikan BLBI, bahwa apa pun yang dikatakan maknanya bisa dipersepsikan positif atau negatif. Para tersangka berkeras uang ratusan ribu dolar itu tak terkait dengan jabatan, tugas, dan kasus yang tengah ditangani. Serta sama sekali tak merugikan karena itu duit pribadi, meskipun jelas bahwa transaksi itu merugikan negara dan masyarakat.

Satu hal lagi betapa seakan kita, warga masyarakat yang lain, sudah dianggap buta-tuli-bisu yang sama sekali tak berhak menentukan bahwa tindak kianat yang terbongkar itu benar atau salah. Seolah hanya pendapat mereka yang sahih bahwa itu semata tindak pinjam meminjam terkait bisnis permata yang tak perlu dibesar-besarkan. Dan, pendapat para tersangka inilah yang benar seratus persen.

Mungkin benar kata seorang pakar bahwa mereka yang sukses sebenarnya tak ada bedanya dengan orang gila. Khususnya dalam hal anggapan bahwa realitas internal dalam dirinya adalah yang paling nyata dan dianggap sebagai kebenaran yang pantas melandasi segala tingkah lakunya. Pilihan sikap yang menjadi berlebihan saat bukti dan kondisi objektif dan norma bicara sebaliknya: yang benar adalah realitas eksternal.

Kesadaran yang mengukuhi realitas internal dan sangat subjektif ini berakibat kepekaan akan kebenaran—setidaknya secara normatif–kian tumpul. Pilihan yang makin menjerumuskan kewarasan seseorang ke dalam pusaran kebingungan yang makin menyeretnya meninggalkan realitas objektif. Pusaran yang membuat orang kebablasan untuk tak bisa lagi menyadari bahwa dirinya bisa salah dan terancam jadi gila beneran.[rab]

PEDAGANG DAN NELAYAN

Posted in Motivasi with tags , on November 7, 2008 by Arasy

Suatu hari, seorang pedagang kaya datang berlibur ke sebuah pulau yang masih asri. Saat merasa bosan, dia berjalan-jalan keluar dari vila tempat dia menginap dan menyusuri tepian pantai. Terlihat di sebuah dinding karang seseorang sedang memancing. Dia menghampiri sambil menyapa, “Sedang memancing ya pak?”

Sambil menoleh si nelayan menjawab, “Benar tuan. Mancing satu-dua ikan untuk makan malam keluarga kami.”

“Kenapa cuma satu-dua ikan, Pak? Kan banyak ikan di laut ini, kalau Bapak mau sedikit lebih lama duduk di sini, tiga-empat ekor ikan pasti dapat kan?”

Kata si pedagang yang menilai si nelayan sebagai orang malas. “Apa gunanya buat saya ?” tanya si nelayan keheranan.

“Satu-dua ekor disantap keluarga Bapak, sisanya kan bisa dijual. Hasil penjualan ikan bisa ditabung untuk membeli alat pancing lagi sehingga hasil pancingan Bapak bisa lebih banyak lagi,” katanya menggurui.

“Apa gunanya bagi saya?” tanya si nelayan semakin keheranan.

“Begini. Dengan uang tabungan yang lebih banyak, Bapak bisa membeli jala. Bila hasil tangkapan ikan semakin banyak, uang yang dihasilkan juga lebih banyak, Bapak bisa saja membeli sebuah perahu. Dari satu perahu bisa bertambah menjadi armada penangkapan ikan. Bapak bisa memiliki perusahaan sendiri. Suatu hari Bapak akan menjadi seorang nelayan yang kaya raya.”

Nelayan yang sederhana itu memandang si turis dengan penuh tanda tanya dan kebingungan. Dia berpikir, laut dan tanah telah menyediakan banyak makanan bagi dia dan keluarganya, mengapa harus dihabiskan untuk mendapatkan uang? Mengapa dia ingin merampas kekayaan alam sebanyak-banyaknya untuk dijual kembali. Sungguh tidak masuk diakal ide yang ditawarkan kepadanya.

Sebaliknya, merasa hebat dengan ide bisnisnya si pedagang kembali meyakinkan, “Kalau Bapak mengikuti saran saya, Bapak akan menjadi kaya dan bisa memiliki apa pun yang Bapak mau.”

“Apa yang bisa saya lakukan bila saya memiliki banyak uang?” tanya si nelayan.

“Bapak bisa melakukan hal yang sama seperti saya lakukan, setiap tahun bisa berlibur, mengunjungi pulau seperti ini, duduk di dinding pantai sambil memancing.”

“Lho, bukankan hal itu yang setiap hari saya lakukan Tuan. Kenapa harus menunggu berlibur baru memancing?” kata si nelayan menggeleng-gelengkan kepalanya semakin heran.

Mendengar jawaban si nelayan, si pedagang seperti tersentak kesadarannya bahwa untuk menikmati memancing ternyata tidak harus menunggu kaya raya.

Netter yang berbahagia, pepatah mengatakan, jangan mengukur baju dengan badan orang lain. Si pedagang mungkin benar melalui analisis bisnisnya, dia merasa apa yang dilakukan oleh si nelayan terlalu sederhana, monoton, dan tidak bermanfaat. Mengeruk kekayaan alam demi mendapatkan uang dan kekayaan sebanyak-banyaknya adalah wajar baginya.

Sedangkan bagi si nelayan, dengan pikiran yang sederhana, mampu menerima apa pun yang diberikan oleh alam dengan puas dan ikhlas. Sehingga hidup dijalani setiap hari dengan rasa syukur dan berbahagia.

Memang ukuran “bahagia”, masing-masing orang pastilah tidak sama. Semua kembali kepada keikhlasan dan cara kita menyukuri, apa pun yang kita miliki saat ini.[aw]

SANG TUNANETRA YANG LUAR BIASA

Posted in Motivasi with tags , on November 7, 2008 by Arasy

Hidup adalah pembelajaran tanpa henti. Setiap hari, setiap saat, dan setiap waktu, jika kita telaah lebih jauh, selalu menjadi momen pembelajaran. Baik itu berupa halangan, rintangan, tantangan, atau berbagai kejadian apa pun yang kita temui. Jika bisa disikapi dengan cara yang bijak, maka selalu ada sisi positif yang bisa kita ambil sebagai bagian proses belajar.

Maka, tak salah, jika orang mengatakan bahwa pengalaman adalah guru terbaik. Namun, semua itu harus dikembalikan kepada individu yang menjalaninya. Jika tak ada proses evaluasi dan tindakan perbaikan, pembelajaran yang didapatkan pun tak akan maksimal. Hadirnya pengalaman, baru akan bernilai jika kita bisa memaknainya dengan sudut pandang dan mindset positif.

Seperti yang saya jumpai saat saya memberikan seminar di Asian Agri Medan pada tanggal 8 Januari 2008, dengan tema “If Better is Possible, Good is Not Enough”. Ketika acara, saya mendapat “pelajaran” yang sangat berharga. Sebagaimana setiap kali seminar, ada banyak orang yang antusias mengikuti seminar. Kemudian, banyak pula yang lantas ingin berfoto dan meminta tanda tangan. Namun, ada satu hal yang luar biasa saat itu. Salah satu orang yang sangat antusias tersebut ternyata adalah seorang penyandang tunanetra.

Yang menjadikannya luar biasa, orang yang bernama Roswidi itu, adalah tekadnya. Meski punya keterbatasan fisik, hal tersebut tidak menjadi halangan baginya untuk berkarya. Hebatnya, dengan kekurangan itu, ia ternyata adalah sosok yang berada di balik suksesnya acara seminar. Pria yang mengaku sebagai pendengar setia acara saya, Smart Motivation di radio Smart FM setiap Senin ini, adalah event organizer acara yang khusus menangani sound system acara. Dengan keterbatasan itu, Roswidi membuktikan pada semua orang, bahwa ia tak beda dengan orang kebanyakan.

Bicaranya yang terdengar semangat, menunjukkan betapa keterbatasan yang dimilikinya, sama sekali bukan halangan untuk sukses. Bahkan, ia mengaku sudah menjalani usaha sound system itu selama lima tahunan. Sebelumnya, ia juga pernah menjadi pemain keyboard di berbagai acara. Selain itu, ia ternyata juga menjadi pengusaha onderdil sepeda. Roswidi benar-benar menunjukkan kepada saya dan semua orang yang hadir saat itu, bahwa sukses memang hak siapa saja, “Success is my right!” Ia adalah contoh nyata orang yang bisa “melihat” dengan tekad dan hati, bahwa halangan dan tantangan, sebenarnya hanyalah bagian dari proses pembelajaran diri.

Jika menengok keadaan kita, hal ini tentu adalah sebuah hal yang sangat luar biasa. Semangat dan daya juang Roswidi patut dicontoh. Apalagi, bagi kita yang dikaruniai tubuh lengkap dan tak kurang suatu apa pun. Seharusnya, dari contoh kisah Roswidi ini, bisa menumbuhkan semangat dalam diri.

Sungguh, perjalanan saya kali ini ke kota Medan memberi pengalaman yang luar biasa. Apalagi, Roswidi sempat berkata, “Kita dapat melakukan apa pun, meski tanpa kedua mata. Sebab, kita masih punya kaki, tangan, otak, dan pikiran yang bisa kita maksimalkan.” Sebuah kalimat sederhana, namun mengandung arti yang sangat luar biasa. Roswidi membuktikan, bahwa dengan tindakan nyata, ia pun bisa berkarya layaknya manusia seutuhnya.

Untuk itu, seperti komitmen saya untuk menjadikan tahun ini sebagai tahun Think and Action 2008, kisah Roswidi ini seharusnya mampu memacu kita untuk berpikir dan bertindak maksimal. Jika orang yang kurang secara fisik saja (maaf: buta) mampu, bagaimana dengan kita yang sehat?

Maka, mari kita jadikan semua cobaan dan tantangan, bukan sebagai halangan. Namun, justru jadi batu loncatan menuju kesuksesan. Dengan think and action, kita buktikan diri mampu menjemput semua impian.

W A K T U

Posted in Motivasi with tags , on November 7, 2008 by Arasy

Tak seorang pun tahu kapan “WAKTU” mulai bergerak
Dan entah kapan sang “WAKTU” berhemti berjalan
Yang pasti sampai detik ini “DIA” terus bergerak dan terus bergulir
Entah Anda menghargai “WAKTU” dengan memanfaatkan sebaik-baiknya
Atau selalu menyia-nyiakan “WAKTU” dengan aktivitas yang tidak bermanfaat
“DIA” tetap diam dan terus berjalan tanpa memihak kepada siapa pun
Tanpa membantu siapa pun
Tetapi “DIA” bernilai untuk siapa pun
“DIA” tidak pernah kalah dan tidak akan usang
“DIA” selalu baru, selalu segar dan tegar

Hanya kitalah sebagai manusia
Lambat atau cepat pasti akan termakan oleh proses sang “WAKTU”
“WAKTU” untuk kehidupan seorang anak manusia
Tidak lama dan sangat terbatas
Maka sepantasnya harus kita isi kehidupan ini
Dengan “PRODUKTIVITAS” yang sangat bermanfaat
Baik bagi diri pribadi dan bagi manusia-manusia lainnya

Kesadaran akan “NILAI WAKTU” harus selalu diingatkan
Dipelihara dengan rasa syukur yang besar terhadap “SANG PENCIPTA”
Dengan demikian kita akan menghargai nilai keberadaan “SANG WAKTU”
Dan nilai-nilai diri kita sebagai manusia sehingga kita akan
Selalu berusaha untuk dapat menikmati “PROSES WAKTU” itu
Dengan kualitas kehidupan yang makin lama makin indah
Nikmat, bahagia dan sangat berarti

Nikmati “WAKTU”mu yang masih ada…!!!
Hargai “WAKTU”mu yang masih tersisa…!!!

7 Langkah Kesabaran (Ren 7 Pu)

Posted in Motivasi with tags , on November 7, 2008 by Arasy

Sebuah rumah gubuk kecil berdiri anggun di tanah pegunungan yang indah dan hijau. Di gubuk yang terpencil itu, tinggallah seorang kakek tua yang sangat terkenal karena kebijakasanaannya. Banyak orang dari berbagai tempat datang kepadanya untuk meminta nasehat si kakek tua itu. Suatu hari, datanglah seorang pria yang telah tiga hari lamanya menempuh perjalanan dengan berjalan kaki. Sesampai di hadapan si kakek tua, pria itu memohon nasehat tentang bagaimana cara mengendalikan emosi yang tidak terkendali.

Setelah sejenak memandang pria tersebut, sang kakek tua nan bijak itu pun berkata, ”Anak muda, setiap kali engkau tersinggung atau terpancing untuk marah-marah, ingatlah ren 7 pu. Tujuh langkah kesabaran. Untuk itu, lakukanlah twee 7 pu, cai cuo 7 pu, yaitu melangkah mundur tujuh langkah, lalu maju tujuh langkah, dan lakukan hal tersebut tujuh kali kali berturut-turut. Lakukan dengan langkah mantap sambil berhitung. Setelah itu, barulah engkau ambil keputusan bertindak.”

Merasa mendapatkan nasihat bijak, pria itu pulang kembali ke desanya. Ia yakin sekali masalah emosi yang dideritanya pasti bisa terpecahkan. Tiga hari perjalanan kembali harus dia tempuh. Hari telah larut ketika ia sampai di rumah. Dengan pakaian yang lusuh, badan letih dan pegal-pegal, serta perut sangat lapar, ia masuk ke dalam kamar istrinya. Di kepalanya, ia hendak meminta istrinya supaya menyediakan makan malam dan air hangat untuk mandi. Tetapi seperti disambar geledek, pria itu mendapati istrinya sedang tertidur lelap di balik selimut dengan orang lain.

Demi melihat pemandangan menjijikkan itu, langsung amarahnya meluap tak tertahankan lagi. ”Kurang ajar! Baru ditinggal sebentar saja sudah berani menyeleweng…!” Tanpa berpikir panjang, pria itu mencabut belati dan hendak menghabisi keduanya. Tetapi, seketika itu juga dirinya teringat dengan nasehat si kakek tua yang bijak; twee 7 pu, cai cuo 7 pu. Sambil tetap mengangkat tangan menghunus belati, pria itu mulai menjalankan nasihat si kakek. Ia melangkah sambil menghitung, dwee 7 pu, mundur tujuh langkah, cai cuo 7 pu, maju tujuh langkah. Kembali lagi, dwee 7 pu cai cuo 7 pu, sampai akhirnya suara hitungan dan hentakan kakinya membangunkan sang istri.

Ketika istrinya menyingkap selimut, kagetlah pria itu karena mendapati orang yang tidur di samping istrinya ternyata adalah ibunya sendiri. Detik itu juga rasa syukur terucap dari mulutnya yang bergetar. Ia telah berhasil mencegah satu tindakan emosional dan bodoh. Seandainya saja kesabarannya tidak muncul di saat-saat yang genting tadi, mungkin orang-orang yang paling dicintainya itu telah mati di tangannya sendiri, dan hidupnya akan dirundung penyesalan sepanjang hayat.

Pembaca yang budiman. Kesabaran adalah mutiara kehidupan yang pantas dan harus kita miliki! Saat kita berjuang tetapi belum berhasil, kita membutuhkan ren atau kesabaran. Kesabaran dalam perjuangan bisa pula diartikan sebagai suatu keuletan, ketekunan, atau mental tahan banting. Ketika menghadapi orang lain yang sedang emosi, kita pun butuh kesabaran. Saat kita sendiri sedang marah, kita pun perlu rem berupa kesabaran. Kesabaran dalam konteks tersebut berarti suatu kematangan mental untuk mampu menahan diri dan mengendalikan sikap-sikap kita supaya tidak terjerumus pada tindakan-tindakan irasional yang merugikan.

Kesabaran merupakan ilmu hidup yang harus kita miliki jika kita ingin meraih sukses sejati. Tanpa kesabaran, kita akan mudah terjebak dalam komunikasi negatif dan sulit menjalin hubungan sosial yang konstruktif. Tanpa kesabaran kita cenderung mudah melakukan tindakan-tindakan tak terkendali yang mengundang penyesalan di kemudian hari. Sebaliknya, melatih kesabaran berarti memperkecil kemungkinan penyesalan. Jadi, saat emosi menguasai kita, ingatlah ren 7 pu , tujuh langkah kesabaran.

AYAHKU TUKANG BATU

Posted in Motivasi with tags , on November 7, 2008 by Arasy

Alkisah, sebuah keluarga sederhana memiliki seorang putri yang menginjak remaja. Sang ayah bekerja sebagai tukang batu di sebuah perusahaan kontraktor besar di kota itu. Sayang, sang putri merasa malu dengan ayahnya. Jika ada yang bertanya tentang pekerjaan ayahnya, dia selalu menghindar dengan memberi jawaban yang tidak jujur. “Oh, ayahku bekerja sebagai petinggi di perusahaan kontraktor,” katanya, tanpa pernah menjawab bekerja sebagai apa.

Si putri lebih senang menyembunyikan keadaan yang sebenarnya. Ia sering berpura-pura menjadi anak dari seorang ayah yang bukan bekerja sebagai tukang batu. Melihat dan mendengar ulah anak semata wayangnya, sang ayah bersedih. Perkataan dan perbuatan anaknya yang tidak jujur dan mengingkari keadaan yang sebenarnya telah melukai hatinya.

Hubungan di antara mereka jadi tidak harmonis. Si putri lebih banyak menghindar jika bertemu dengan ayahnya. Ia lebih memilih mengurung diri di kamarnya yang kecil dan sibuk menyesali keadaan. “Sungguh Tuhan tidak adil kepadaku, memberiku ayah seorang tukang batu,” keluhnya dalam hati.

Melihat kelakuan putrinya, sang ayah memutuskan untuk melakukan sesuatu. Maka, suatu hari, si ayah mengajak putrinya berjalan berdua ke sebuah taman, tak jauh dari rumah mereka. Dengan setengah terpaksa, si putri mengikuti kehendak ayahnya.

Setelah sampai di taman, dengan raut penuh senyuman, si ayah berkata, “Anakku, ayah selama ini menghidupi dan membiayai sekolahmu dengan bekerja sebagai tukang batu. Walaupun hanya sebagai tukang batu, tetapi ayah adalah tukang batu yang baik, jujur, disiplin, dan jarang melakukan kesalahan. Ayah ingin menunjukkan sesuatu kepadamu, lihatlah gedung bersejarah yang ada di sana. Gedung itu bisa berdiri dengan megah dan indah karena ayah salah satu orang yang ikut membangun. Memang, nama ayah tidak tercatat di sana, tetapi keringat ayah ada di sana. Juga, berbagai bangunan indah lain di kota ini di mana ayah menjadi bagian tak terpisahkan dari gedung-gedung tersebut. Ayah bangga dan bersyukur bisa bekerja dengan baik hingga hari ini.”

Mendengar penuturan sang ayah, si putri terpana. Ia terdiam tak bisa berkata apa-apa. Sang ayah pun melanjutkan penuturannya, “Anakku, ayah juga ingin engkau merasakan kebanggaan yang sama dengan ayahmu. Sebab, tak peduli apa pun pekerjaan yang kita kerjakan, bila disertai dengan kejujuran, perasaan cinta dan tahu untuk apa itu semua, maka sepantasnya kita mensyukuri nikmat itu.”

Setelah mendengar semua penuturan sang ayah, si putri segera memeluk ayahnya. Sambil terisak, ia berkata, “Maafkan putri, Yah. Putri salah selama ini. Walaupun tukang batu, tetapi ternyata Ayah adalah seorang pekerja yang hebat. Putri bangga pada Ayah.” Mereka pun berpelukan dalam suasana penuh keharuan.

Pembaca yang budiman,

Begitu banyak orang yang tidak bisa menerima keadaan dirinya sendiri apa adanya. Entah itu masalah pekerjaaan, gelar, materi, kedudukan, dan lain sebagainya. Mereka merasa malu dan rendah diri atas apa yang ada, sehingga selalu berusaha menutupi dengan identitas dan keadaan yang dipalsukan.

Tetapi, justru karena itulah, bukan kebahagiaan yang dinikmati. Namun, setiap hari mereka hidup dalam keadaan was was, demi menutupi semua kepalsuan. Tentu, pola hidup seperti itu sangat melelahkan.

Maka, daripada hidup dalam kebahagiaaan yang semu, jauh lebih baik seperti tukang batu dalam kisah di atas. Walaupun hidup pas-pasan, ia memiliki kehormatan dan integritas sebagai manusia.

Sungguh, bisa menerima apa adanya kita hari ini adalah kebijaksanaan. Dan, mau berusaha memulai dari apa adanya kita hari ini dengan kejujuran dan kerja keras adalah keberanian!

KASIH IBUNDA

Posted in Motivasi with tags , on November 7, 2008 by Arasy

Suatu pagi di sebuah perkampungan miskin. Tampak seorang ibu dengan penuh semangat sedang membikin adonan untuk membuat tempe, pekerjaan membuat dan menjual tempe telah digeluti selama bertahun-tahun sepeninggal suaminya.

Saat membuat adonan, sesekali pikirannya menerawang pada sepucuk surat yang baru diterima dari putranya yang sedang menuntut ilmu di rantau orang. Dalam surat itu tertulis, “Bunda tercinta, dengan berat hati, ananda mohon maaf harus mohon dikirim uang kuliah agar dapat mengikuti ujian akhir. Ananda mengerti bahwa bunda telah berkorban begitu banyak untuk saya. Ananda berharap secepatnya menyelesaikan tugas belajar agar bisa menggantikan bunda memikul tanggung jawab keluarga dan membahagiakan bunda. Teriring salam sayang dari anakmu yang jauh.”

Dua hari lagi adalah hari pasaran, biasanya tempe hasil buatan si ibu dibawa ke pasar untuk dijual. Kali ini, tempe yang dibuat dalam jumlah yang lebih banyak dari biasanya, dengan harapan mendapatkan lebih banyak uang sehingga bisa mengirimkan ke anaknya.

Sehari menjelang hari pasar, hati dan pikiran si ibu panik karena tempe buatannya tidak jadi, entah karena konsentrasi yang tidak penuh atau porsi tempe yang dibuat melebihi biasanya. Kemudian si ibu pun sibuk berdoa dgn khusuk di sela-sela waktu yang tersisa menjelang keberangkatannya ke pasar, memohon kepada Tuhan diberi kemujizatan agar tempenya siap dijual dalam keadaan jadi. Tetapi sampai tibanya dia di pasar, tempenya tetap belum jadi.

Sepanjang hari itu dagangannya tidak laku terjual. Si ibu tertunduk sedih, matanya berkaca-kaca membayangkan nasib anaknya yang bakal tidak bisa mengikuti ujian. Saat hari pasar hampir usai para pedagang lain pun mulai meninggalkan pasar, tiba-tiba datang seorang ibu berjalan dengan tergesa-gesa, “Bu, saya nyari tempe yang belum jadi, dari tadi nggak ada, ibu tahu saya harus cari ke mana?”

“Untuk apa tempe belum jadi kok dicari?” tanya si penjual heran.

“Saya mau membeli untuk dikirim ke anak saya di luar kota, dia sedang ngidam tempe khas kota ini,” kata ibu calon pembeli.

Ibu penjual tempe ternganga mendengar kata-kata yang baru didengarnya, seakan tak percaya pada nasib baiknya, seolah tangan Tuhan memberi kemurahan kepadanya. Akhirnya tempe dagangannya diborong habis tanpa sisa. Dia begitu senang, bersyukur dan menambah keyakinan bahwa Tuhan tidak akan pernah meninggalkan diri umatnya selama manusia itu sendiri tidak putus asa dan tetap berjuang.

Kekuatan berusaha dan berdoa.

Pepatah kuno menyatakan, ora et labo`ra, berusaha dan berdoa. Memang, doa dan usaha harus seiring dan sejalan dalam perjalanan hidup setiap manusia. Doa dibutuhkan untuk mengingatkan kita agar senantiasa menapak langkah di jalan benar yang diridhoi oleh yang Maha Kuasa dan tetap mampu bersikap sabar, gigih, dan ulet saat menghadapi segala macam halangan, rintangan dan cobaan, sekaligus mampu memelihara antusiasme dalam memperjuangkan apa yang telah kita tetapkan demi mewujudkan kesuksesan.

Di kesempatan yang berbahagia ini pula, saya mengucapkan SELAMAT TAHUN BARU 2007. Mari dengan segenap kekayaan mental yang optimis dan aktif, kita singsingkan lengan baju siap bekerja keras untuk mengisi tahun baru ini dengan harapan baru! Semangat baru! Agar tercapai sukses yang lebih gemilang! Sukses lebih luar biasa!!!

MENYEBERANGI SUNGAI

Posted in Motivasi with tags , on November 7, 2008 by Arasy

Suatu hari di dalam kelas sebuah sekolah, di tengah-tengah pelajaran, Pak Guru memberi sebuah pertanyaan kepada murid-muridnya, “Anak-anak, jika suatu hari kita berjalan-jalan di suatu tempat, di depan kita terbentang sebuah sungai kecil, walaupun tidak telalu lebar tetapi airnya sangat keruh sehingga tidak diketahui berapa dalam sungai tersebut. Sedangkan satu-satunya jembatan yang ada untuk menyeberangi sungai, tampak di kejauhan berjarak kira-kira setengah kilometer dari tempat kita berdiri.”

“Pertanyaan saya adalah, apa yang akan kalian perbuat untuk menyeberangi sungai tersebut dengan cepat dan selamat? Pikirkan baik-baik, jangan sembarangan menjawab. Jawablah dengan memberi alasan kenapa kalian memilih jalan itu. Tuliskan jawaban kalian di selembar kertas. Kita akan diskusikan setelah ini.”

Seisi kelas segera ramai, masing-masing anak memberi jawaban yang beragam. Setelah beberapa saat menunggu murid-murid menjawab di kertas, Pak Guru segera mengumpulkan kertas dan mulailah acara diskusi. Ada sekelompok anak pemberani yang menjawab: kumpulkan tenaga dan keberanian, ambil ancang-ancang dan lompat ke seberang sungai. Ada yang menjawab, kami akan langsung terjun ke sungai dan berenang sampai ke seberang.

Kelompok yang lain menjawab: Kami akan mencari sebatang tongkat panjang untuk membantu menyeberang dengan tenaga lontaran dari tongkat tersebut. Dan ada pula yang menjawab: Saya akan berlari secepatnya ke jembatan dan menyeberangi sungai, walaupun agak lama karena jarak yang cukup jauh, tetapi lari dan menyeberang melalui jembatan adalah yang paling aman.

Setelah mendengar semua jawaban anak-anak, Pak Guru berkata, ”Bagus sekali jawaban kalian. Yang menjawab melompat ke seberang, berarti kalian mempunyai semangat berani mencoba. Yang menjawab turun ke air berarti kalian mengutamakan praktik. Yang memakai tongkat berarti kalian pintar memakai unsur dari luar untuk sampai ke tujuan. Sedangkan yang berlari ke jembatan untuk menyeberang berarti kalian lebih mengutamakan keamanan. Bapak senang kalian memiliki alasan atas jawaban itu. Semua jalan yang kalian tempuh adalah positif dan baik selama kalian tahu tujuan yang hendak dicapai. Asalkan kalian mau berusaha dengan keras, tahu target yang hendak dicapai, tidak akan lari gunung di kejar, pasti tujuan kalian akan tercapai. Pesan bapak, mulai dari sekarang dan sampai kapan pun, Kalian harus lebih rajin belajar dan berusaha menghadapi setiap masalah yang muncul agar berhasil sampai ke tempat tujuan.”

”Bu Yao Tao Bi Kun Nan”
Jangan melarikan diri dari kesulitan.

Dalam kenyataan hidup, kita semua sebagai manusia selalu mempunyai masalah atau problem yang harus di hadapi, selama kita tidak melarikan diri dari masalah, dan sadar bahwa semua masalah dan rintangan itu harus diatasi, melalui pola pikir dan cara-cara yang positif serta keberanian kita menghadapi semua itu, tentu hasilnya akan maksimal. Hanya dengan action dan belajar, belajar, dan action lagi. Manusia baru bisa mencapai pertumbuhan mental yang sehat dan meraih kesuksesan seperti yang di idam idamkan!